Terminal Khusus (Tersus) Batubara di Kalimantan
Sektor pertambangan batubara di pulau Kalimantan adalah penopang utama ekonomi nasional Indonesia dan penentu utama dinamika ekspor komoditas energi dunia. Kedudukan Kalimantan sebagai sentra tambang batubara telah menginspirasi sekaligus mendesak pembangunan infrastruktur logistik pendukung, terkhusus pelabuhan terminal khusus (Tersus) batubara yang menjamin kelancaran ekspor serta distribusi nasional. Tersus batubara, sebagai fasilitas logistik vital, berperan signifikan dalam rantai pasok industri batubara—mulai dari pengumpulan, penimbunan, bongkar muat, hingga konektivitas modal transportasi seperti sungai, jalan hauling, dan, lebih baru, rel kereta api khusus.
Terminal Khusus Batubara di Indonesia
Terminal Khusus (Tersus) adalah terminal pelabuhan yang dibangun dan dioperasikan di luar Daerah Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKr dan DLKp) pelabuhan utama, dimaksudkan sebagai bagian dari pelabuhan terdekat guna melayani kepentingan sendiri sesuai usaha pokok pemilik Tersus. Tersus dikhususkan untuk menunjang kegiatan tertentu seperti pertambangan batubara jika pelabuhan umum terdekat tidak dapat menampung kebutuhan operasional industri atau jika secara ekonomis dan teknis lebih efektif dan efisien.
Regulasi utama yang mengatur Tersus adalah:
- UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.
- PP No. 61 Tahun 2009 jo. PP No. 64 Tahun 2015 tentang Kepelabuhanan.
- Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No. 52 Tahun 2021 tentang Terminal Khusus dan Terminal untuk Kepentingan Sendiri.
- PP No. 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko (OSS)—mengatur sistem perizinan berbasis risiko untuk terminal khusus.
- Peraturan dan Surat Edaran turunan, misal Keputusan Dirjen Perhubungan Laut A.189/AL.308/DJPL/2023 mengenai tata cara permohonan izin Tersus secara elektronik.
Perizinan Tersus kini diwajibkan melalui sistem OSS berbasis risiko. Dalam prosesnya, dokumen persetujuan pemanfaatan ruang, dokumen lingkungan (AMDAL/UKL-UPL/SPPL), dokumen teknis pelabuhan, serta dokumen rencana investasi adalah persyaratan utama.
Persyaratan dan Prosedur Pendirian Tersus
Salah satu syarat penting dalam pendirian Tersus batubara, selain legalitas perusahaan (IUP Operasi Produksi, NPWP, Akta Pendirian, SIUP), adalah adanya pertimbangan teknis dari Dinas Perhubungan provinsi serta Dinas Lingkungan Hidup. Kementerian Perhubungan melalui Dirjen Hubungan Laut melakukan verifikasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap operasional, keselamatan, dan keandalan Tersus.
Tersus hanya boleh digunakan untuk kepentingan sendiri sesuai usaha pokok. Namun, dalam situasi tertentu (bencana, darurat, atau pelabuhan umum tidak mampu menunjang), Tersus dapat digunakan melayani kepentingan umum, atas izin Menteri Perhubungan.
Kementerian ESDM menyediakan portal ESDM One Map Indonesia, yang menampilkan data spasial wilayah IUP, smelter, dan terminal khusus/TUKS batubara—termasuk overlay peta potensi, infrastruktur, dan zona-zona tambang nasional.
Peta Terminal Khusus Kementerian Perhubungan
Kementerian Perhubungan RI melalui Geoportal Kementerian (https://geoportal.esdm.go.id) dan data.go.id menyediakan peta Terminal Khusus ber-skala 1:50.000, berisi sebaran rinci fasilitas Tersus dan TUKS di seluruh Indonesia (termasuk Kalimantan).
BIG (Badan Informasi Geospasial)
BIG juga menerbitkan peta sebaran terminal khusus/terminal untuk kepentingan sendiri yang dapat diakses publik dan memenuhi prinsip Satu Peta nasional.
Daftar Terminal Khusus Batubara di Kalimantan
Daftar terminal diambil dari database Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubla), JDIH BKPM, Pelaporan ESDM, serta publikasi perusahaan operator besar dan situs resmi provinsi/kabupaten/kota. Prioritas diberikan pada terminal-terminal yang melayani usaha batubara dengan status izin “Tersus” aktif.
Tabel Terminal Khusus Batubara Utama di Kalimantan
| Nama Terminal / Jetty | Lokasi (Provinsi dan Kabupaten/Kota) | Operator / Pemilik | Kapasitas Bongkar Muat (Estimasi) | Status Izin | Konektivitas Transportasi |
|---|---|---|---|---|---|
| Tanjung Bara Coal Terminal | Sangatta, Kab. Kutai Timur, Kaltim | PT Kaltim Prima Coal (KPC) | ~80 juta ton/thn | Tersus (aktif) | Jalan hauling khusus, dekat rencana KA Tabang-Maloy |
| Lubuk Tutung Coal Terminal | Sangatta, Kab. Kutai Timur, Kaltim | PT Kaltim Prima Coal (KPC) | – | Tersus | Jalan hauling, akses langsung ke laut |
| Balikpapan Coal Terminal | Balikpapan, Kaltim | PT Dermaga Perkasa Pratama | >10 juta ton/thn | TUKS | Road, dekat Jl. Poros Balikpapan-Samarinda |
| Transshipment Point Muara Pantai Berau Coal | Tanjung Redeb, Kab. Berau, Kaltim | PT Berau Coal | ~15 juta ton/thn | Tersus (aktif) | Sungai Berau, tongkang, jalan hauling |
| PT Indominco Mandiri (Bontang Coal Terminal) | Teluk Pandan, Kutai Timur, Kaltim | PT Indominco Mandiri | >10 juta ton/thn | Tersus | Jalan hauling khusus |
| Teluk Adang (Kideco Jaya Agung) | Tanah Grogot, Kab. Paser, Kaltim | PT Kideco Jaya Agung | ~35 juta ton/thn | Tersus | Jalan hauling dari tambang, sungai, jetty |
| PT Indexim Coalindo Jetty | Kaliorang, Kab. Kutai Timur, Kaltim | PT Indexim Coalindo | – | Tersus | Jalan hauling, akses darat |
| PT Supra Bara Energi Jetty | Lamin Telungsur, Berau, Kaltim | PT Supra Bara Energi | – | Tersus | Jalan hauling, sungai |
| Lubuk Tutung Jetty (PIK) | Sekerat, Bengalon, Kutim, Kaltim | PT Perkasa Inakakerta | – | Tersus | Jalan hauling |
| STS Muara Berau (Samarinda) | Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kaltim | PT Pelabuhan Tiga Bersaudara | – | Tersus | Sungai Mahakam, bongkar muat tongkang |
| North Pulau Laut Coal Terminal (NPLCT) | Sarang Tiung, Kotabaru, Kalsel | PT Arutmin Indonesia | ~15 juta ton/thn | Tersus | Jalan hauling dari area Batulicin/Kintap/Senakin |
| PT Tunas Inti Abadi Terminal | Sebamban, Kab. Tanah Bumbu, Kalsel | PT Tunas Inti Abadi (SSA Group) | >10 juta ton/thn | Tersus | Jalan hauling khusus ke jetty |
| PT Jorong Barutama Greston Jetty | Swarangan, Kab. Tanah Laut, Kalsel | PT Jorong Barutama Greston | – | Tersus | Jalan hauling |
| PT Hasnur Jaya Utama Jetty | Sungai Puting, Tapin, Kalsel | PT Hasnur Jaya Utama | – | Tersus | Jalan hauling |
| PT Bina Indo Raya Terminal Bunati | Bunati, Tanah Bumbu, Kalsel | PT Bina Indo Raya (Batulicin Enam Sembilan) | >12 juta ton/thn | Tersus | Jalan hauling 12,4 km, armada tronton, Sungai Batulicin |
| PT Bahari Cakrawala Sebuku Jetty | Pulau Sebuku, Kotabaru, Kalsel | PT Bahari Cakrawala Sebuku | – | Tersus | Jalan hauling, akses perairan |
| PT Mitratama Perkasa Kintap/Asam Asam | Kintap, Tanah Laut, Kalsel | PT Mitratama Perkasa | – | Tersus | Jalan hauling |
| PT Sebuku Iron Lateritic Ores Jetty | Ujung Tanjung Mangkok, Pulau Sebuku, Kotabaru, Kalsel | PT Sebuku Iron Lateritic Ores | – | Tersus | Akses sungai/perairan, hauling |
| PT Ganda Alam Makmur Terminal | Sempayan, Sangkulirang, Kutai Timur, Kaltim | PT Ganda Alam Makmur | – | Tersus | Jalan hauling |
| Muara Jawa Jetty and Anchorage | Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, Kaltim | – | – | Tersus | Sungai Mahakam, tongkang |
| Terminal Khusus PT Fajar Sakti Prima (BYAN) | Sebelang, Muara Pahu, Kutai Barat, Kaltim | PT Fajar Sakti Prima (BYAN Group) | – | Tersus (izin aktif, 2025) | Jalan hauling, rencana rel kereta Tabang–Maloy |
| Mitra Terminal Kaltim | Kota Samarinda, Kaltim | PT Mitra Terminal Kaltim | – | IUP OPK (Angkut Jual) | Jalan hauling, sungai Mahakam |
| Terminal/TUKS PT Indonesia Bulk Terminal | Pulau Laut Barat, Kotabaru, Kalsel | PT Indonesia Bulk Terminal (IBT) | ~10 juta ton/thn | TUKS | Transfer point, kapal besar |
| Terminal Haryati / Terminal Sungai Kahayan | Sungai Kahayan, Kalteng | (PLTU, Perusahaan Lokal) | – | Tersus (khusus PLTU) | Sungai Kahayan, tongkang, barge |
Catatan: Kapasitas bongkar muat dapat berbeda tergantung fasilitas, armada, dan pengelolaan masing-masing terminal. Tersus dengan status izin aktif merujuk pada data update per 2024–2025 sesuai Kemenhub/ESDM dan perusahaan operator.
Terminal di Kalimantan Timur (Kaltim)
Kaltim merupakan provinsi dengan jumlah Tersus batubara terbanyak, didorong oleh konsentrasi konsesi tambang besar seperti KPC (Sangatta), Kideco Jaya Agung (Paser), Berau Coal (Berau), dan lainnya. Terminal utama seperti Tanjung Bara (KPC) dan Balikpapan Coal Terminal (DPP) berperan vital untuk ekspor dengan kapasitas puluhan juta ton per tahun, didukung jalan hauling ratusan km dan sungai besar (Mahakam, Berau) sebagai moda transportasi. Fasilitas transshipment seperti di Muara Berau dan Muara Jawa menjadi kunci efisiensi bongkar muat.
Terminal baru milik PT Fajar Sakti Prima yang baru diakuisisi BYAN (Bayan Resources) pada pertengahan 2025 menjadi sorotan penting. Keberadaan rel kereta api khusus yang dalam tahap pembangunan (Tabang–Maloy) di bawah proyek strategis nasional menegaskan upaya diversifikasi moda logistik batubara Kaltim.
Terminal di Kalimantan Selatan (Kalsel)
Kalsel memiliki kekuatan utama di selatan: terminal di Kotabaru, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tapin, dan sekitarnya. Operator besar seperti Arutmin (NPLCT), Adaro, PT Tunas Inti Abadi, PT Jorong Barutama Greston, PT Hasnur Jaya Utama, hingga PT Bina Indo Raya di Bunati mengelola terminal modern dengan integrasi jalan hauling dan transshipment point di laut. North Pulau Laut Coal Terminal (NPLCT, Arutmin) dan Indonesia Bulk Terminal (IBT) di Pulau Laut Barat dikenal sebagai node ekspor batu bara paling strategis di Kalsel, melayani kapal kargo besar hingga 120,000 DWT.
Jaringan jalan hauling khusus sangat masif, baik dari area pertambangan ke terminal (20–80 km), maupun penyeberangan antar terminal dengan jetty modern. Adaro sendiri mengelola sistem logistik dan terminal mendukung ekspor langsung serta pasokan ke PLTU nasional.
Terminal di Kalimantan Tengah (Kalteng)
Infrastruktur Tersus di Kalteng relatif tertinggal dibanding Kaltim dan Kalsel. Pengangkutan batubara masih memanfaatkan sungai besar seperti Barito, Kapuas, dan Kahayan serta pelabuhan utama di Bahaur, Tanjung Malatayur, Samuda, dan Kumai. Rencana pembangunan rel kereta api khusus batubara (Puruk Cahu–Batanjung) belum sepenuhnya terealisasi, namun menjadi harapan jangka panjang untuk pengangkutan batubara efisien dari wilayah Murung Raya, Barito, dan sekitarnya ke pelabuhan ekspor.
Terminal sungai dan dermaga batubara di Sungai Kahayan, Kumai, dan Bahaur umumnya digunakan untuk stockpile batubara sebelum dibawa oleh tongkang menuju terminal transshipment point di Kaltim/Kalsel atau langsung ke pelabuhan ekspor. Kondisi sungai yang dangkal di beberapa titik serta tingginya biaya pengerukan menjadi tantangan utama.
Terminal di Kalimantan Barat (Kalbar)
Kegiatan Tersus batubara di Kalbar masih sangat terbatas, mayoritas terminal khusus lebih dominan untuk komoditas bauksit, CPO, dan kontainer umum. Namun, ada beberapa pengembangan terminal baru di daerah Ketapang dan Singkawang terkait pertambangan mineral dan energi.
Terminal di Kalimantan Utara (Kaltara)
Aktivitas Tersus batubara di Kaltara masih dalam kategori baru tumbuh. Sejumlah perusahaan swasta mengajukan izin baru sejak 2023–2025, terutama di area Bulungan, Malinau, dan area perbatasan dengan Kaltim. Pemprov Kaltara telah membuka lelang wilayah IUP dan mempercepat penerbitan WIUP serta pembangunan Tersus sebagai upaya mengakselerasi investasi pertambangan.
Status Legalitas dan Perizinan Tersus Batubara
Semua terminal di atas beroperasi dengan izin Tersus (Terminal Khusus) sesuai ketentuan Permenhub No. 52 Tahun 2021. Status aktif umumnya tercatat melalui verifikasi sistem OSS dan laporan Dinas Perhubungan/Kementerian ESDM. Proses perizinan Tersus kini telah terdigitalisasi dan terintegrasi dalam sistem OSS, mempercepat pelayanan serta pengawasan terpadu—mulai penerbitan NIB hingga rekomendasi teknis Dinas Provinsi.
Ketentuan menarik, terdapat pula TUKS (Terminal untuk Kepentingan Sendiri) yang dipakai perusahaan kelompok tertentu untuk kepentingan internal tanpa melayani pihak ketiga kecuali dalam keadaan khusus darurat atau bencana. Status dan pengawasan Tersus/TUKS bersifat dinamis, disesuaikan dengan kepemilikan, rencana investasi (dokumentasi terintegrasi di BKPM), serta persetujuan konektivitas transportasi.
Konektivitas Transportasi Terminal Khusus Batubara di Kalimantan
1. Jalan Hauling
Mayoritas Tersus batubara di Kalimantan terhubung langsung ke area tambang melalui jalan khusus hauling yang dibangun perusahaan operator. Jalan hauling memiliki lebar dan spesifikasi teknis melebihi jalan umum untuk mengakomodasi truk berkapasitas besar. Hampir seluruh jalan hauling Kaltim disterilkan dari angkutan umum, sesuai peraturan pemerintah setempat dan pusat yang kini melarang hauling batubara di jalan nasional kecuali crossing sebidang/underpass di titik tertentu.
Contoh:
- KPC mengoperasikan jaringan hauling >100 km dari pit ke Tanjung Bara.
- Kideco Jaya Agung memiliki jalan hauling utama dari pit ke Teluk Adang.
- PT Bina Indo Raya, Tanah Bumbu, mengelola jalan hauling 12,4 km eksklusif ke terminal Bunati.
2. Sungai dan Perairan
Sungai Mahakam, Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Berau, dan Sungai Kahayan adalah jalur utama pengangkutan batubara via tongkang dari stockpile menuju terminal domestik atau transshipment point lepas pantai. Sungai Mahakam dan Berau sangat vital untuk transportasi batubara dari area pedalaman Kaltim ke pelabuhan ekspor dan transshipment international. Proses pengangkutan harus memperhitungkan kedalaman, morfologi, pasang surut, dan keberadaan titik-titik abrasi/sedimentasi di sungai.
3. Rel Kereta Api Khusus Batubara
Proyek strategis nasional KA Batubara Kalimantan mengalami kemajuan dengan adanya dukungan investasi dari konsorsium internasional (Rusia, Cina, swasta nasional). Rencana utama:
- Rel KA 305 km antara Tabang–Lubuk Tutung–Marangkayu–Maloy (Kaltim).
- Rel KA 196 km menghubungkan Kalteng–Buluminung (Kaltim), serta koridor rel KA di Kalsel dan Kalteng (proyek Tanjung–Martapura–Banjarmasin; Puruk Cahu–Batanjung).
Per 2025, proyek rel KA Bayan Resources telah masuk tahap penerbitan pergub dan harmonisasi perizinan di Kaltim, pembangunan fisik diprediksi mulai sebelum 2027 dengan konektivitas utama terminal baru PT Fajar Sakti Prima di Muara Pahu.
Operator Utama Terminal Khusus Batubara di Kalimantan
- PT Kaltim Prima Coal (KPC): Terminal utama Tanjung Bara (Kutai Timur, Kaltim). Kapasitas ekspor 60+ juta ton/tahun, salah satu pelabuhan batubara terbesar dunia.
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN): Mengelola jaringan terminal di Tabang, dan terminal baru di Sebelang, Muara Pahu, Kutai Barat (pasca akuisisi PT Fajar Sakti Prima, 2025).
- PT Kideco Jaya Agung: Konsesi di Paser dengan terminal di Teluk Adang, kapasitas ekspor tinggi.
- PT Berau Coal: Terminal utama di transshipment point Muara Pantai Berau dan Sungai Berau.
- PT Arutmin Indonesia: Termasuk North Pulau Laut Coal Terminal (NPLCT), IBT, dan set konektivitas di Kotabaru, Batulicin, Satui, dan Asamasam (Kalsel).
- PT Tunas Inti Abadi, PT Jorong Barutama Greston, PT Hasnur Jaya Utama, PT Mitratama Perkasa, PT Bina Indo Raya, PT Indexim Coalindo, dan lainnya juga berperan sebagai pengelola utama terminal-terminal di wilayah Kalsel dan Kaltim.
Dinamika Investasi dan Peningkatan Kapasitas Tersus
Investasi pengembangan terminal batubara sangat signifikan. Sebagai contoh, akuisisi terminal batubara PT Fajar Sakti Prima oleh PT Bayan Resources (BYAN) tahun 2025 mencatat nilai transaksi Rp 3,3 triliun, belum termasuk dana konstruksi pengembangan terminal mencapai Rp 151 miliar untuk optimalisasi jetty, conveyor, dan fasilitas pendukung. Investasi ini berorientasi pada integrasi logistik dari tambang ke terminal, efisiensi harga, dan fleksibilitas teknis yang optimal khususnya untuk pembukaan jalur baru seperti rencana kereta api batubara Tabang–Maloy Kaltim.
Ringkasan Sumber Data Peta dan GIS Terminal Batubara
- Peta ESDM One Map: https://geoportal.esdm.go.id/home/map/minerba — memperlihatkan overlay IUP, konektivitas terminal, dan infrastruktur nasional.
- Peta Terminal Khusus Kemenhub: Dapat diakses di https://data.go.id/dataset/spasial/peta-terminal-khusus-skala-1-50-000 dan BIG Dashboard.
- Tabel resmi Terminal Khusus Batubara: Downloadable dari https://hubla.dephub.go.id/storage/ppid-informasi/7504/SZgxvyUG7OcGteVa4arbwbB8UCbNAekwk8no4yWg.pdf untuk update nama lokasi, izin, dan operator.
Pembangunan dan pengoperasian terminal khusus batubara di Kalimantan dihadapkan pada berbagai tantangan: fluktuasi pasar global, tekanan pengurangan jejak karbon, kebutuhan modal tinggi untuk infrastruktur, serta dinamika regulasi terkait lahan, perizinan, dan lingkungan hidup. Namun demikian, integrasi digital perizinan (OSS), kemajuan konektivitas transportasi (jaringan hauling, rel KA, dan sungai), serta kebijakan investasi sektor logistik menunjukkan optimisme untuk penguatan rantai pasok dan daya saing ekspor batubara Kalimantan di panggung global.
Keterbukaan data publik, sistem pengawasan, dan peta berbasis GIS yang telah dikembangkan pemerintah pusat dan daerah memberikan transparansi serta peluang kolaborasi investasi di sektor pelabuhan dan logistik batubara. Upaya percepatan dan penyempurnaan sistem perizinan, pengembangan infrastruktur rel KA dan jalan khusus, serta penguatan pengawasan lingkungan adalah kunci masa depan rantai pasok batubara nasional.
Tautan dan Referensi Data Resmi untuk Pengecekan dan Peta
- Peta Terminal Khusus Skala 1:50.000 Kemenhub
- ESDM One Map — WebGIS Sektor Batubara
- Geoportal BIG Mapping Terminal Khusus/TUKS
- Perizinan Sektor Terminal Khusus — OSS BKPM
- Direktori Tersus Kementerian Perhubungan (PDF Update 2024/2025)


