Uncategorized

Proyek Baterai Titan Antam-Huayou Molor, Terganjal Harga Nikel Lesu dan Ketidakpastian Fiskal

Bisnis – 25 Oktober 2025 — Jadwal groundbreaking megaproyek ekosistem baterai “Titan” senilai lebih dari US$8 miliar yang digarap PT Aneka Tambang Tbk (Antam)/IBC dan Zhejiang Huayou Cobalt Co, kembali molor dari target Oktober 2025. Keterlambatan ini dinilai disebabkan oleh sejumlah faktor fundamental yang kompleks.

Analis dari Center of Economic and Law Studies (Celios) mengidentifikasi empat faktor penghambat utama. Pertama, lesunya harga nikel global akibat permintaan dari China yang belum pulih (pertumbuhan Q3 4,8%), sementara pasar EV domestik belum cukup kuat. Kedua, ketidakpastian pasokan bijih nikel di dalam negeri yang sempat mengganggu operasi 25 smelter.

Ketiga, perubahan skema insentif fiskal akibat penerapan global minimum tax, yang menghapus opsi tarif pajak 0% dan memaksa perusahaan menghitung ulang rencana bisnis. Keempat, isu tata kelola dan ESG, terutama tuntutan agar pabrik tidak menggunakan PLTU batu bara dan beralih ke EBT, yang membutuhkan waktu transisi.

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengonfirmasi bahwa pemerintah terus mendorong percepatan dan menyebut keterlambatan terjadi karena “penyelesaian perjanjian kerja sama antara Antam dan Huayou” yang masih berlangsung. Kalangan ahli (PII) juga mendesak pemerintah untuk proaktif mempercepat perizinan, mengingat status proyek ini sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang krusial bagi ekosistem EV Indonesia.

Ikuti saluran Indomine • Batu Bara & Nikel

Author: Bang Ferry

GEOLOGIST LIKE COFFIE

GEOLOGIST LIKE COFFIE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *