🏭 Terjebak di Tengah: Analis Sebut Hilirisasi Nikel RI Mentok di Produk Setengah Jadi
NikelID – 10 Oktober 2025 — Industri nikel Indonesia masih terjebak di tahap menengah (midstream) dengan produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), belum berkembang ke hilir seperti baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) atau katode, ujar Nico Laurens dari HungryStock dan Panin Sekuritas.
Produsen memilih berhenti di MHP karena biaya lebih rendah, meski proses High-Pressure Acid Leach (HPAL) kini memberi margin lebih tinggi berkat harga nikel baterai dan efisiensi operasi.
PT Vale Indonesia unggul lewat integrasi hulu-hilir, sedangkan MBMA bergantung pada keberhasilan proyek HPAL untuk peningkatan margin.
Saprolit diolah lewat RKEF jadi feronikel, sementara limonit melalui HPAL menghasilkan hidroksida nikel yang dapat diolah menjadi sulfat dan kobalt.
Hilirisasi penuh ke produk baterai masih terbatas, dan ekspor bahan setengah jadi tetap dominan. Nico menegaskan, Indonesia perlu rantai nilai nikel terintegrasi agar naik kelas menjadi pemain utama industri kendaraan listrik global.
Ikuti saluran Indomine • Batu Bara & Nikel


