Foto: Seremoni pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Pengolah Sampah Menjadi Energi atau Waste to Energy, Selasa (30/9/2025). [Kumparan]
Rp50T ‘Obligasi Patriot’ Jadi Bahan Bakar 33 Proyek PLTSa Nasional
Bisnis/Bloomberg – 02 Oktober 2025 — Program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dipacu lewat penerbitan Obligasi Patriot (Patriot Bonds) Rp50 triliun oleh Danantara untuk membiayai proyek-proyek EBT/WtE, dengan tender perdana pada akhir Oktober 2025. Setiap modul PSEL 1.000 ton/hari membutuhkan Rp2–3 triliun (termasuk infrastruktur), masa konstruksi 18–24 bulan, lahan 4–5 ha, dan menghasilkan ~15–20 MW listrik—cukup untuk ~20.000 rumah tangga. PLN akan menyerap listriknya, sementara tipping fee yang semula dibebankan ke pemda akan ditanggung dan disubsidi melalui skema baru.
Pemerintah menetapkan 33 lokasi prioritas (lima kota administrasi DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar/Bali, Makassar, Medan, Palembang, Pekanbaru, Samarinda/Balikpapan, dan aglomerasi sekitar). Bogor dan Bekasi telah menyampaikan surat minat resmi. Untuk wilayah dengan timbulan <1.000 t/hari, proyek akan diaglomerasi (contoh Yogyakarta–Sleman–Bantul total 1.368 t/hari). Tiap proyek menyerap ~500–1.000 tenaga kerja selama konstruksi.
Tarif & pembiayaan. Tarif indikatif listrik US$0,20/kWh; dukungan pusat disalurkan via PLN untuk menutup tipping fee. Danantara membuka kemitraan pembiayaan dan teknologi (termasuk BUMD). KLH memprioritaskan daerah “darurat sampah” dengan prasyarat pasokan ≥1.000 t/hari, lahan ±5 ha dekat sumber air dan akses jalan, serta logistik memadai (~200 armada/hari @ 5 t per armada).
Skala & dampak iklim. Indonesia menghasilkan ~35 juta ton sampah/tahun; baru ~61% yang terkelola. TPA menyumbang ~2–3% emisi GHG nasional (utamanya metana). PSEL diklaim menurunkan emisi 50–90% dibanding TPA (target program sering disebut ~80%), menghemat lahan ~90%, serta mengurangi bau dan lindi sehingga meningkatkan nilai kawasan dan pariwisata. Wamen ESDM memperkirakan kebutuhan US$2,72 miliar (≈Rp45,4 T) untuk menambah 452,7 MW PLTSa hingga 2034; kebutuhan pembiayaan sistemik WtE nasional bisa mencapai ~Rp300 T.
Tahap awal. Implementasi dimulai 4–5 lokasi di Jakarta pada akhir Oktober 2025, disusul Surabaya dan Surakarta; tender terbuka menyusul di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Makassar, dan kota-kota prioritas lain. Pilihan teknologi mengarah ke insinerasi/combustion langsung—lebih tahan variasi sampah dan stabil—dibanding gasifier yang lebih sensitif.
Ikuti saluran Indomine • Batu Bara & Nikel


