Bukan Sekadar Siklus Harga, Batu Bara RI Resmi Masuki Era “Sunset Industry”?

Kontan – 18 Februari 2026 – Narasi “kiamat” batu bara kembali mencuat, namun kali ini bukan sekadar imbas fluktuasi harga sesaat seperti tragedi 2012 silam. Berbagai indikator makro menunjukkan pergeseran struktural yang mengonfirmasi bahwa batu bara mulai memasuki fase sunset industry.

Managing Director Energy Shift Institute (ESI), Putra Adhiguna, menyoroti manuver drastis China sebagai pembeda utama. Pada 2024, 80% pertumbuhan kebutuhan listrik China telah dipenuhi oleh energi bersih, sementara realisasi pembangkitan listrik berbasis batu bara di sana justru menyusut 2%. Padahal, volume ekspor RI ke China hanya setara 1/20 dari total produksi domestik Negeri Tirai Bambu tersebut.

Sinyal pelemahan otot pasar terekam jelas dalam angka:

  • Ekspor RI Anjlok: Data BPS mencatat nilai ekspor batu bara Indonesia di 2025 turun 19,7% menjadi US$24,48 miliar.
  • Impor Asia Menyusut: Total impor Asia turun 4,4% di 2025. China memangkas impor hingga 52 juta ton, disusul India yang turun 6% menjadi 163 juta ton.

Di dalam negeri, batu bara tak lagi menjadi opsi “murah”. Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik dari PLTU melonjak tajam dari Rp637/kWh (2020) menjadi Rp941/kWh (2024) akibat infrastruktur yang menua dan membengkaknya biaya operasional. Lonjakan ini secara langsung menggelembungkan beban subsidi energi pada APBN.

Lembaga think tank CERAH mendesak agar strategi pemangkasan produksi pemerintah tidak lagi dipakai sekadar sebagai alat reaktif untuk mengerek harga komoditas. Langkah ini harus menjadi bagian dari rencana transisi jangka panjang yang diikat oleh hukum, termasuk urgensi merevisi Perpres 112/2022 dan target bauran energi di PP 40/2025. Di sisi lain, perbankan juga dituntut untuk segera mengalihkan arus modal dari sektor fosil menuju pembiayaan hijau guna mendukung target ambisius 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Leave a Comment