Kontan/CNBC – 24 Februari 2026 – PT Pupuk Indonesia (Persero) mengambil langkah taktis di tengah ancaman dinamika pasokan batu bara dalam negeri yang mulai mengkhawatirkan. Sekretaris Perusahaan, Yehezkiel Adiperwira, mengungkapkan bahwa perseroan kini melakukan penyesuaian mekanisme pengadaan dengan beralih ke skema pembelian langsung (spot) sesuai ketersediaan pasar sebagai langkah mitigasi jangka pendek untuk mengamankan stok bahan bakar.
Batu bara menyumbang porsi 20% dari total sumber energi Pupuk Indonesia Group, yang digunakan secara spesifik oleh anak usaha seperti Pupuk Sriwidjaja, Petrokimia Gresik, dan Pupuk Kalimantan Timur. Selebihnya, grup mengandalkan pembangkit berbasis gas bumi. Selain mengubah skema pembelian, perusahaan juga menggenjot efisiensi dengan mengoptimalkan kapasitas pembangkit gas serta meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan seperti PLTS sebagai bagian dari dekarbonisasi.
Sebagai industri vital yang menguasai hajat hidup orang banyak, berdasarkan Kepmen ESDM No. 267.K/MB.01/MEM.B/2022, industri pupuk berhak mendapatkan batu bara dengan harga khusus Domestic Market Obligation (DMO) sebesar US$90 per metrik ton. Pupuk Indonesia mendukung penuh percepatan penerbitan alokasi dari Ditjen Minerba ESDM agar kepastian pasokan lebih terjamin. Kementerian ESDM sendiri menargetkan suplai DMO dari PKP2B Generasi I dan BUMN mencapai 75 juta ton pada tahun ini.