PARA ahli geologi meyakini bahwa bongkahan emas di dalam batuan kuarsa terbentuk akibat aliran cairan panas. Namun, teori ini menyisakan misteri karena cairan bawah tanah tersebut hanya mampu membawa partikel emas dalam jumlah yang sangat kecil.
Jawaban dari misteri ini mulai terungkap salah satunya berkaitan dengan aktivitas gempa bumi. Penelitian yang dipimpin oleh Christopher Voisey dari Monash University itu menemukan bahwa aliran listrik akibat gempa berperan penting dalam proses pembentukan bongkahan emas.
Tim ilmuwan berfokus pada sifat unik batuan kuarsa yang disebut piezoelektrisitas, yaitu kemampuan menghasilkan tegangan listrik saat mendapat tekanan fisik. “Ketika gempa bumi terjadi, pergerakan lempeng tektonik memberikan tekanan besar pada kuarsa sehingga melepaskan muatan listrik,” bunyi laporan peneliti seperti dikutip Earth pada 17 Februari 2026.
Untuk membuktikan teori ini, para ilmuwan melakukan eksperimen laboratorium dengan merendam potongan kuarsa ke dalam cairan yang mengandung emas terlarut. Mereka kemudian memberikan tekanan mekanis pada kuarsa untuk meniru guncangan gempa bumi dan mengamatinya menggunakan mikroskop beresolusi tinggi. Hasilnya, partikel emas mikroskopis mulai terbentuk dan menempel secara langsung pada permukaan batuan mineral itu.
Adapun mekanisme kelistrikan ini tidak menggantikan model pembentukan emas klasik, melainkan melengkapinya dengan penjelasan logis tentang proses penumpukan logam. Sebagian besar bongkahan emas raksasa di dunia diketahui berasal dari urat kuarsa dalam sistem geologis yang disebut emas orogenik. Sistem pembentukan alami inilah yang selama ini telah memasok sekitar tiga perempat dari total emas yang ditambang sepanjang sejarah peradaban manusia.
Setiap kali rentetan gempa bumi terjadi, tegangan listrik sesaat tersebut mengubah sistem retakan batuan menjadi layaknya sel elektrokimia. Ion-ion emas yang terlarut di dalam cairan akan menangkap elektron dari kuarsa dan berubah menjadi logam padat yang ketebalannya terus bertambah. Penjelasan alamiah ini menjawab pertanyaan mengapa para penambang sering menemukan bongkahan emas pejal yang terkonsentrasi di satu titik batuan.