Eksplorasi bauksit memiliki karakteristik yang cukup unik dibandingkan bahan galian lain karena endapannya (bauksit laterit) umumnya berada sangat dekat dengan permukaan bumi dan tersebar secara lateral. Wilayah pembentukannya biasa berupa dataran tinggi atau perbukitan bergelombang landai di daerah tropis (seperti di Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau).
Berikut adalah tahapan dan metode umum yang digunakan dalam eksplorasi bauksit:
1. Studi Pendahuluan & Penginderaan Jauh
- Analisis Citra Satelit dan Topografi: Menggunakan citra satelit, foto udara, atau data DEM (Digital Elevation Model) untuk mencari morfologi yang cocok, yaitu area perbukitan bergelombang landai atau plateau (dataran tinggi) dengan kemiringan yang tidak terlalu curam.
- Studi Geologi Regional: Mengidentifikasi batuan asal (bedrock) yang kaya akan mineral aluminium silikat namun rendah kuarsa, seperti granit, syenit, granodiorit, atau andesit.
2. Pemetaan Topografi & Geologi Permukaan
- Survei Geologi: Melakukan peninjauan langsung ke lapangan untuk mencari singkapan (outcrop) konkresi bauksit di permukaan atau pada tebing-tebing potongan jalan.
- Pemetaan Topografi Detail: Pembuatan peta kontur yang akurat karena ketebalan dan kualitas endapan bauksit sangat dikontrol oleh bentuk lahan (morfologi) dan sistem drainase air tanah.
3. Eksplorasi Fisik (Bawah Permukaan)
Karena endapan bauksit sangat dangkal (umumnya hanya 1 hingga 10 meter), metode geofisika jarang digunakan. Eksplorasi langsung mengandalkan pembukaan fisik:
- Sumur Uji (Test Pit): Penggalian sumur secara manual (biasanya berukuran 1×1 meter) menembus tanah penutup (top soil), zona bijih (zona konkresi bauksit), hingga mencapai zona lempung (clay/kong) atau batuan dasar. Ini bertujuan untuk melihat profil laterit secara visual dan detail.
- Pengeboran Dangkal: Menggunakan bor tangan (hand auger) atau bor mesin ringan (seperti bor Jacro). Pengeboran dilakukan dengan pola grid teratur. Jarak antar titik (spasi) biasanya dimulai dari jarak lebar (400m x 400m) pada tahap penyelidikan umum, lalu diperapat hingga 50m x 50m atau 25m x 25m untuk menghitung cadangan terukur.
4. Sampling (Pengambilan Conto) dan Preparasi
- Sampling Interval: Sampel tanah/batuan diambil dari sumur uji atau inti bor setiap interval kedalaman tertentu (biasanya per 1 meter atau 0,5 meter) pada zona bijih.
- Pencucian (Washing): Ini adalah tahap preparasi yang sangat krusial khusus untuk bauksit. Sampel kotor (biji bauksit yang masih bercampur tanah liat/lempung) dicuci menggunakan saringan (biasanya ukuran mata saring 2 mm atau 10 mesh).
- Concretion Factor (CF): Persentase berat bauksit bersih yang tertinggal di saringan dibandingkan dengan berat sampel awal kotor. Nilai CF ini (juga disebut Washing Recovery) sangat menentukan apakah bauksit tersebut ekonomis untuk ditambang atau tidak.
5. Analisis Laboratorium
Sampel bauksit yang sudah dicuci bersih kemudian dikeringkan dan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis kadar kimianya (biasanya menggunakan metode XRF atau X-Ray Fluorescence). Parameter yang dicari adalah:
- Al_2O_3 (Aluminium Oksida): Merupakan unsur utama yang dicari.
- Total SiO_2 dan Reactive Silica (R-SiO_2): Kuarsa atau lempung pengotor. Silika reaktif sangat penting diketahui karena dapat menyerap bahan kimia (caustic soda) saat proses pengolahan, sehingga kadarnya harus sekecil mungkin (biasanya maksimal 4-5%).
- Fe_2O_3 (Besi Oksida): Mempengaruhi warna dan kualitas pengolahan.
- TiO_2 (Titanium Dioksida): Mineral penyerta.
6. Pemodelan dan Estimasi Sumber Daya
Setelah data pemboran, ketebalan bijih, nilai CF, Specific Gravity (SG), dan kadar kimia terkumpul, data tersebut dimasukkan ke dalam perangkat lunak tambang untuk membuat model geologi 3D dan menghitung tonase sumber daya/cadangan bauksit yang layak tambang.