Genesa Endapan Bauksit
Bauksit terbentuk dari batuan yang mengandung unsur Al. Batuan tersebut antara lain nepheline, syenit, granit, andesit, dolerite, gabro, basalt, hornfels, schist, slate, kaolinitic, shale, limestone dan phonolite. Apabila batuan-batuan tersebut mengalami pelapukan, mineral yang mudah larut akan terlarutkan, seperti mineral – mineral alkali, sedangkan mineral – mineral yang tahan akan pelapukan akan terakumulasikan.
Di daerah tropis, pada kondisi tertentu batuan yang terbentuk dari mineral silikat dan lempung akan terpecah-pecah dan silikanya terpisahkan sedangkan oksida alumunium dan oksida besi terkonsentrasi sebagai residu. Proses ini berlangsung terus dalam waktu yang cukup dan produk pelapukan terhindar dari erosi, akan menghasilkan endapan lateritik.
Kandungan alumunium yang tinggi di batuan asal bukan merupakan syarat utama dalam pembentukan bauksit, tetapi yang lebih penting adalah intensitas dan lamanya proses laterisasi.
Kondisi – kondisi utama yang memungkinkan terjadinya endapan bauksit secara optimum adalah;
- Adanya batuan yang mudah larut dan menghasilkan batuan sisa yang kaya alumunium
- Adanya vegetasi dan bakteri yang mempercepat proses pelapukan
- Porositas batuan yang tinggi, sehingga sirkulasi air berjalan dengan mudah
- Adanya pergantian musim (cuaca) hujan dan kemarau (kering)
- Adanya bahan yang tepat untuk pelarutan
- Relief (bentuk permukaan) yang relatif rata, yang mana memungkinkan terjadinya pergerakan air dengan tingkat erosi minimum
- Waktu yang cukup untuk terjadinya proses pelapukan
Contoh dari Endapan Bauksit
Mineralogi Bauksit
| Gibbsite | Boehmite | Diaspore | |
| Chemical formula | Al2O3.3H2O or Al(OH)3 | Al2O3.H2O or AlOOH | Al2O3.H2O or AlOOH |
| Alumina content, % | 65.4 | 85 | 85 |
| Combined water content, % | 34.6 | 15 | 15 |
| Crystal system | Monoclinic | Orthorombic | Orthorombic |
| Hardness, Mohs’ scale | 2.3 – 3.5 | 3.5 – 5 | 6.5 – 7 |
| Specific gravity | 2.3 – 2.4 | 3.01 – 3.06 | 3.3 – 3.5 |


