Eksplorasi

Metalogeni Regional

Van Leeuwen (2018) membagi Indonesia ke dalam 14 provinsi metalogeni berdasarkan distribusi endapan mineral yang sudah ditemukan dalam unit tektonik utama yang ada di Indonesia. Berdasarkan pembagian tersebut, daerah penelitian dilalui oleh empat provinsi metalogeni, diantaranya Provinsi Sn Indonesia Barat, Provinsi Polimetalik Kalimantan Tengah – Barat, Provinsi Au-Ag-Cu Kalimantan Tengah, dan Provinsi Bauksit Barat Indonesia (Gambar II.5).

Dua dari empat provinsi metalogeni yang terdapat pada daerah penelitian merupakan dua provinsi metalogeni tertua di Indonesia, keduanya terbentuk sebelum Kenozoikum. Dua provinsi tersebut adalah Provinsi Sn Indonesia Barat dan Provinsi Polimetalik Kalimantan Tengah-Barat. Sementara itu dua provinsi lainnya terbentuk pada Kenozoikum.

Provinsi metalogeni di Indonesia berdasarkan penelitian van Leeuwen (2018). I: Provinsi Zn-Pb Sumatera Utara; II: Provinsi Sn Indonesia Barat; III: Provinsi Polimetalik Kalimantan Tengah – Barat; IV: Provinsi Au-Ag-Cu Kalimantan Tengah; V: Provinsi Cu- Au Busur Sunda NW; VI: Provinsi Au-Ag Busur Sunda Tengah; VII: Provinsi Cu-Au Busur Sunda Timur; VIII: Provinsi Polimetalik Busur Banda; IX: Provinsi Au-Cu Sulawesi Utara; X: Provinsi Au- Mo-Cu Sulawesi Barat; XI: Provinsi Au-Ag-Cu Maluku Utara; XII: Provinsi Cu-Au Papua; XIII: Provinsi Ni-Fe Indonesia Timur; XIV: Provinsi Bauksit Indonesia Barat.

Provinsi Sn Indonesia Barat terletak pada batas tenggara dari Jalur Timah Asia Tenggara sepanjang 3.000 km yang telah memproduksi lebih dari setengah produksi timah dunia sejak tahun 1800. Provinsi metalogeni ini berpusat di Pulau Bangka dan Belitung, serta menerus hingga ke batas barat Pulau Kalimantan. Proses mineralisasi utama yang membentuk provinsi metalogeni ini terjadi pada Trias Akhir saat granitoid yang membawa mineralisasi timah terbentuk akibat pelelehan kerak saat Sibumasu mengalami kolisi dengan Indocina (Barber dkk., 2005).

Provinsi Polimetalik Kalimantan Tengah – Barat terdiri dari gabungan beberapa endapan tembaga, emas, seng, timbal, dan perak yang tersebar pada beberapa tempat di wilayah tengah dan barat Kalimantan. Mineralisasi pada endapan- endapan ini berhubungan dengan subduksi Lempeng Pasifik di bawah bagian tenggara Sundaland akibat pergerakan Blok SW Borneo pada 130 juta tahun yang lalu. Proses ini menghasilkan granitoid-granitoid berumur Kapur yang kemudian menginisiasi terjadinya mineralisasi. Beberapa endapan mineral pada provinsi metalogeni ini diantaranya adalah Beruang Kanan (Cu), Merambang-Pangkut- Gunung Mas (Au), Ruwai (Zn-Pb-Ag), Gunung Ibu (Cu-Mo-Au), Riam Kusik (Pb- Zn), dan Sori Hill (Au-Cu).

Provinsi Au-Ag-Cu Kalimantan Tengah merupakan provinsi metalogeni Kenozoikum tertua di Indonesia. Mineralisasi pada provinsi ini terbentuk pada batuan andesitik dan dasitik berumur Oligosen Akhir – Miosen Awal. Batuan ini diinterpretasikan terbentuk pada fase akhir magmatisme yang terjadi pada Oligosen Awal – Miosen Akhir saat terjadi perubahan pergerakan lempeng tektonik utama di wilayah Asia Tenggara. Provinsi metalogeni ini memiliki setidaknya dua endapan emas dengan tonase besar yang sudah ditemukan, Kelian dan Muro, serta beberapa endapan emas lainnya dengan tonase yang lebih kecil seperti Masuparia, Mirah, dan Seruyung. Sebagian besar endapan emas yang ditemukan pada provinsi metalogeni ini terbentuk pada sistem epitermal sulfida rendah – menengah (vein system). Sistem lain pada provinsi ini adalah porfiri Cu-Au di daerah Kasongan, Magerang, Sungai Han, dan Rina, namun menunjukkan kadar rendah dan belum ekonomis untuk dikembangkan.

Provinsi metalogeni terakhir yang terdapat di daerah penelitian adalah Provinsi Bauksit Indonesia Barat, meliputi Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat. Wilayah ini memiliki protolith yang sangat baik untuk menghasilkan endapan bauksit yang ekonomis. Hal yang sangat signifikan dari wilayah ini adalah kondisi daerahnya yang secara tektonik tidak aktif dan secara geomorfologi relatif datar dibanding wilayah lain di Indonesia, sehingga memungkinkan terjadinya pelapukan kimia secara konsisten terhadap batuan induk dalam waktu yang sangat lama.

Text Box: Koleksi digital milik UPT Perpustakaan ITB untuk keperluan pendidikan dan penelitianKepulauan Riau menjadi pusat kegiatan eksplorasi bauksit sejak tahun 1924, sumberdaya bauksit terbesar pada periode tersebut terdapat di Pulau Bintan. Pusat kegiatan eksplorasi bauksit ini kemudian berpindah ke bagian barat Pulau Kalimantan sejak tahun 1969 akibat kegiatan eksplorasi yang masif dilakukan di daerah ini dan semakin berkurangnya sumberdaya bauksit di daerah Kepulauan Riau. Endapan bauksit di Kalimantan bagian barat terbentuk pada sabuk sepanjang 300 km dan lebar 50 – 100 km yang membentang sejajar garis pantai barat Kalimantan dari utara ke selatan (Patterson dkk., 1986). Batuan induk dari endapan bauksit di bagian utara sabuk ini terdiri dari basal, andesit, dasit, dan monzonit kuarsa yang dipotong oleh lamprofir, aplit, dan pegmatit. Sementara itu di bagian selatan, batuan induk yang membentuk endapan bauksit terdiri dari batulempung, batupasir, batugamping, granit, gabro, diorit, dan dolerit.

Sabuk bauksit di bagian barat Kalimantan tersebut kemudian diperbaharui oleh Surata dkk. (2010) yang membuat jalur bauksit semakin luas pada area sepanjang 450 km dan lebar mencapai 150 km (Gambar II.6). Pembaruan tersebut dilakukan melalui penelitian karakter bauksit pada beberapa tempat di luar jalur bauksit yang sudah ada. Terdapat dua parameter utama yang digunakan dalam penelitian tersebut, yaitu jenis litologi dan kondisi geomorfologi.

Sabuk laterit di Kalimantan bagian barat (Surata dkk., 2010).

Author: Bang Ferry

GEOLOGIST LIKE COFFIE

GEOLOGIST LIKE COFFIE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *