Setelah bauksit dicuci bersih, batuannya akan diuji di laboratorium. Pabrik peleburan bauksit menjadi alumina (smelter) umumnya menggunakan Proses Bayer. Proses ini menggunakan bahan kimia caustic soda (natrium hidroksida) pada suhu dan tekanan tinggi.
Karena proses pelarutan ini sangat sensitif, smelter menetapkan standar kadar yang ketat:
- Total Al_2O_3 (Alumina): Ini adalah target utama yang akan diekstrak menjadi aluminium murni.
- Standar umum: Minimal 40% hingga 45%. Semakin tinggi semakin baik dan mahal harganya.
- R-SiO_2 (Reactive Silica): Ini adalah “musuh utama” dalam pengolahan bauksit. Silika reaktif (berasal dari mineral lempung seperti kaolinit yang masih menempel) akan ikut bereaksi dan menyerap caustic soda yang mahal, serta menyebabkan hilangnya sebagian alumina dalam proses tersebut.
- Standar umum: Maksimal 4% hingga 5%. Jika lebih dari ini, biaya pengolahan di smelter akan sangat membengkak.
- Total SiO_2 (Silika Total): Kuarsa bebas (pasir) yang tidak ikut bereaksi. Biasanya dibatasi di bawah 10%.
- Fe_2O_3 (Besi Oksida): Besi tidak ikut bereaksi dengan bahan kimia, tetapi ia tidak larut dan akan menjadi limbah lumpur beracun yang disebut red mud.
- Standar umum: Sekitar 10% hingga 20%. Semakin tinggi kadar besi, semakin banyak volume limbah red mud yang harus dikelola oleh smelter.
- TiO_2 (Titanium Dioksida): Mineral penyerta yang juga menjadi kotoran dan dibuang bersama limbah red mud.
- Standar umum: Kurang dari 1,2%.
Bauksit yang memiliki kadar Al_2O_3 tinggi tetapi nilai R-SiO_2 juga tinggi (misal di atas 8%) seringkali ditolak oleh smelter atau dikenakan penalti harga yang sangat besar karena dianggap tidak efisien untuk diolah.