RI Wajib Impor Batu Bara Kokas AS di Tengah Drama Pungutan Global Trump

Bloomberg – 23 Februari 2026 – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menyepakati perundingan tarif resiprokal yang membawa syarat baru bagi sektor energi domestik. Dalam dokumen resmi Gedung Putih, Indonesia diwajibkan untuk memfasilitasi dan meningkatkan impor batu bara metalurgi (kokas) dari AS guna mendukung produksi baja nasional, meningkatkan keamanan energi, serta mengurangi ketergantungan dari pihak yang dituduh memanipulasi pasar. Selain itu, RI juga diminta bermitra untuk menerapkan teknologi batu bara AS guna memproduksi bahan bangunan, bahan baterai, hingga serat karbon.

Sebagai bentuk “barter” dari kesepakatan ini, produk ekspor RI akan mendapatkan penurunan tarif impor AS sebesar 19%, bahkan tarif 0% diberlakukan khusus untuk komoditas kelapa sawit, kopi, dan kakao. Sebagai gantinya, Indonesia harus menghapus hambatan tarif pada lebih dari 99% produk AS yang masuk ke Tanah Air. Kewajiban untuk menyerap batu bara AS ini datang di momen yang cukup ironis, mengingat kinerja ekspor batu bara Indonesia sepanjang 2025 tengah lesu dengan nilai yang anjlok 19,7% menjadi US$24,48 miliar.

Kesepakatan bilateral RI-AS ini terjadi tepat di tengah guncangan hebat kebijakan perdagangan global Washington. Mahkamah Agung (MA) AS baru saja membatalkan sejumlah besar tarif era Presiden Donald Trump yang menyasar negara-negara Asia, sebuah putusan yang diestimasikan memangkas rata-rata tarif tertimbang AS hampir setengahnya, dari 15,4% menjadi 8,3%. Namun, hanya dalam hitungan jam pasca-putusan tersebut, Trump langsung membalas dengan mengumumkan pengenaan bea masuk baru sebesar 10% untuk impor dari semua negara. Tarif sapu jagat ini dijadwalkan mulai berlaku pada hari Selasa untuk jangka waktu awal 150 hari dengan menggunakan landasan hukum yang berbeda.

Manuver mendadak Trump ini tak pelak memicu ketidakpastian baru dan kewaspadaan di kawasan Asia Pasifik. Kementerian Perdagangan Thailand memproyeksikan akan terjadi fenomena frontloading (lonjakan pengiriman barang secara cepat) dalam jangka pendek karena para eksportir berlomba memasukkan barang ke AS sebelum tarif 10% tersebut berlaku. Sementara itu, Taiwan yang baru saja meneken kesepakatan tarif resiprokal dan komitmen investasi US$250 miliar dengan AS, menyatakan akan memantau dengan cermat detail implementasi kebijakan baru tersebut demi meresponsnya secara tepat.

Leave a Comment