SISTIM GEOLOGI KEPULAUAN INDONESIA
Proses tektonik lempeng berdasarkan catatan yang Anda berikan. Proses ini menjelaskan bagaimana interaksi lempeng besar membentuk relief dan struktur geologi di wilayah Indonesia.
Ringkasan Proses Tektonik
Secara fundamental, bentang alam Indonesia, baik di bagian barat maupun timur, merupakan hasil dari tumbukan (konvergensi) tiga lempeng tektonik utama: Lempeng India-Australia yang bergerak ke utara, Lempeng Eurasia yang relatif diam, dan Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat. Interaksi kompleks ini menghasilkan rangkaian busur gunung api, busur kepulauan non-vulkanik, dan berbagai cekungan sedimen.

Struktur Geologi Utama yang Terbentuk
Akibat tumbukan lempeng tersebut, tiga fitur geologi utama terbentuk:
- Busur Pegunungan Vulkanik (Volcanic Inner Arc): Ini adalah jalur pegunungan api aktif yang terbentuk di atas lempeng yang menunjam (Lempeng Eurasia). Ketika Lempeng India-Australia menyusup ke bawah, batuan pada kedalaman tertentu akan meleleh menjadi magma. Magma ini kemudian naik ke permukaan dan membentuk rantai gunung berapi. Contohnya adalah deretan gunung api di sepanjang Pulau Sumatra, Jawa, hingga Nusa Tenggara. 🌋
- Busur Kepulauan Non-Vulkanik (Non-volcanic Outer Arc): Terletak di depan busur vulkanik, ini adalah rangkaian pulau yang tidak memiliki aktivitas vulkanik. Busur ini terbentuk dari tumpukan sedimen laut yang terkikis dan terangkat dari dasar samudra akibat tekanan tumbukan lempeng. Contoh klasiknya adalah Kepulauan Mentawai di lepas pantai barat Sumatra dan Pulau Timor.
- Cekungan (Basin): Ini adalah daerah dataran rendah atau cekungan yang terbentuk di antara atau di belakang busur pegunungan. Cekungan ini menjadi lokasi pengendapan sedimen yang tebal dan sering kali kaya akan sumber daya hidrokarbon.

Evolusi Geologi Berdasarkan Waktu dan Lokasi
Proses pembentukan ini tidak terjadi serentak, melainkan melalui beberapa tahapan evolusi yang berbeda antara wilayah barat dan timur.
Tahap Awal (Tersier Awal)
- Dasar (Basement): Kedua wilayah, baik barat maupun timur, memiliki batuan dasar (basement) yang merupakan fondasi awal sebelum proses tumbukan intensif terjadi.
- Transgresi: Pada awal Era Tersier, terjadi kenaikan muka air laut global (transgression). Lautan menggenangi daratan, mengendapkan lapisan sedimen di atas batuan dasar.
- Di Bagian Barat: Proses transgresi ini memungkinkan terbentuknya lingkungan laut dangkal yang ideal bagi pertumbuhan terumbu karang secara masif, sehingga terbentuk Platform Karbonat (Carbonate Platform).
- Di Bagian Timur: Wilayah timur juga mengalami transgresi yang signifikan, mengendapkan sedimen-sedimen laut di atas basement-nya.
Tahap Lanjutan (Tumbukan dan Pengangkatan)
- Pembentukan Foreland Basin: Seiring tumbukan yang terus berlanjut, berat dari pegunungan yang mulai terangkat menekan kerak bumi di depannya, membentuk sebuah cekungan yang disebut Foreland Basin (Cekungan Muka Daratan). Cekungan ini terletak di antara pegunungan yang terangkat dan daratan stabil di belakangnya.
- Perkembangan Busur Vulkanik: Pada saat yang sama, aktivitas vulkanik di Volcanic Arc terus berkembang, menyuplai material vulkanik ke area sekitarnya.
- Pengangkatan dan Regresi: Proses pengangkatan (uplift) terus berjalan akibat tekanan tektonik. Pengangkatan ini menyebabkan daratan naik dan muka air laut seolah-olah surut. Proses ini disebut Regresi.
- Pengendapan Sedimen Delta: Akibat regresi, sungai-sungai dari pegunungan yang baru terangkat membawa material erosi dalam jumlah besar dan mengendapkannya di Foreland Basin yang mulai mendangkal. Endapan ini membentuk sistem delta yang luas.
- Puncak Orogenesa: Seluruh proses pengangkatan, perlipatan, dan pensesaran ini mencapai puncaknya pada periode Plio-Pleistosen, yang dikenal sebagai Orogenesa Plio-Pleistosen. Inilah fase utama pembentukan pegunungan modern di Indonesia.
- Pembentukan Interdeep: Bersamaan dengan semua proses di atas, di antara busur vulkanik dalam dan busur non-vulkanik luar, berkembang pula cekungan laut dalam yang disebut Interdeep.
Cekungan Batubara Indonesia Barat

Pembentukan cekungan batubara di Indonesia bagian barat adalah hasil langsung dari proses tektonik yang kompleks, terutama tumbukan Lempeng Samudra India-Australia dengan Lempeng Benua Eurasia. Interaksi ini menciptakan berbagai jenis cekungan sedimen selama Era Tersier, yang kemudian menjadi lokasi ideal untuk pembentukan batubara pada dua periode utama: Paleogen (lebih tua) dan Neogen (lebih muda).
Batubara Paleogen (66 – 23 Juta Tahun Lalu)

Batubara dari periode ini terbentuk pada fase awal pembentukan cekungan, seringkali dalam cekungan yang relatif sempit dan terisolasi.
- Waktu Pembentukan: Terendapkan sebelum terjadinya kenaikan muka air laut secara luas (transgresi).
- Jenis Cekungan Utama: Cekungan Antargunung (Intramontane Basin). Ini adalah cekungan yang terbentuk di antara blok-blok pegunungan yang terangkat akibat aktivitas tektonik awal. Seringkali berbentuk graben (lembah patahan).
- Lingkungan Pengendapan: Umumnya di lingkungan darat (terrestrial), seperti endapan sungai teranyam (braided river) yang kemudian ditutupi oleh sedimen laut saat transgresi dimulai.
- Ciri-Ciri Khas:
- Penyebaran terbatas dan terkontrol oleh struktur patahan/graben.
- Ketebalan lapisan batubara sangat bervariasi.
- Pengendapannya sering bersamaan dengan aktivitas tektonik dan vulkanik.
- Hampir semua bersifat Autochthonous, artinya batubara terbentuk dari material tumbuhan yang tumbuh dan terkubur di lokasi yang sama.
- Contoh Lokasi & Formasi Penting:
- Cekungan Ombilin (Sumatera Barat)
- Formasi Bayah (Banten, Jawa Barat)
- Formasi Tanjung di Cekungan Pasir & Barito (Kalimantan Tenggara)
Batubara Neogen (23 – 2.6 Juta Tahun Lalu)
Batubara Neogen terbentuk dalam skala yang jauh lebih luas setelah periode transgresi laut, dalam sebuah siklus besar penurunan muka air laut (regresi).
- Waktu Pembentukan: Terendapkan setelah atau selama siklus regresi yang dimulai pada Miosen Tengah.
- Jenis Cekungan Utama:
- Cekungan Muka Daratan (Foreland Basin atau Backdeep): Cekungan luas yang berkembang di depan jalur pegunungan utama (misalnya, Pegunungan Barisan di Sumatra).
- Cekungan Delta: Cekungan yang terbentuk dari suplai sedimen masif oleh sistem sungai besar, seperti di Kalimantan Timur.
- Proses Pembentukan (Siklus Regresi): Proses ini terjadi secara bertahap, mengubah lingkungan dari laut dalam -> laut dangkal -> rawa (paludal) -> delta -> darat. Batubara terbentuk pada fase rawa dan delta, di mana vegetasi subur tumbuh melimpah dan terkubur dengan cepat.
- Ciri-Ciri Khas:
- Penyebarannya sangat luas dan menerus.
- Umumnya memiliki kualitas yang lebih rendah (Lignit hingga Sub-bituminus) dibandingkan batubara Paleogen karena umurnya lebih muda.
- Contoh Lokasi & Formasi Penting:
- Cekungan Sumatra Selatan: Dalam Formasi Muara Enim.
- Cekungan Barito (Kalimantan): Merupakan contoh klasik siklus regresi, di mana Formasi Warukin (penghasil batubara) diendapkan di atas Formasi Berai (batugamping laut).
- Cekungan Kutai & Tarakan (Kalimantan Timur): Batubara deltaik yang sangat produktif pada Formasi Balikpapan dan Formasi Kampung Baru. Pembentukan delta ini dipengaruhi oleh pemekaran Selat Makassar.
Perbandingan Kunci: Batubara Paleogen vs. Neogen
| Fitur | Batubara Paleogen | Batubara Neogen |
| Waktu | Sebelum Transgresi | Selama/Setelah Regresi |
| Jenis Cekungan | Cekungan Antargunung (Intramontane) | Cekungan Muka Daratan (Foreland), Delta |
| Penyebaran | Terbatas, dikontrol patahan | Luas dan menerus |
| Lingkungan | Darat (sungai), dekat gunung api | Rawa dan Delta |
| Contoh Formasi | Formasi Bayah (Jawa), Formasi Tanjung (Kalteng) | Formasi Muara Enim (Sumatra), Formasi Balikpapan (Kaltim) |
Stratigrafi Cekungan Ombilin Kendarsih, 1984)

Stratigrafi Formasi Sawahlunto (Daulay, 1985)

Stratigrafi Cekungan Sumatera Selatan (Thamrin dkk, 1982)

Stratigrafi Formasi Muaraenim (nach BAMCO, 1983)


