TAHAPAN EKSPLORASI
TAHAPAN EKSPLORASI BAKU EROPA
I. Studi Pendahuluan dan Rancangan Eksplorasi
1. Studi Pendahuluan : review literatur, geologi regional, studi citra lendsat, interpretasi foto udara, synthesa-synthesa geologi dan
2. Rancangan eksplorasi menyangkut pengajuan Eksplorasi Model sebagai hipotesa kerja, penentuan petunjuk-petunjuk geologi yang akan digunakan, penentuan strategi dan pentahapan dan pemilihan metoda eksplorasi.
II. Tahapan Tinjau/Strategis
3. Penilaian daerah berdasarkan pustaka dan data yang ada.
4. Tinjauan Daerah :
– Survey dari udara; survey dan analisa foto udara, survey dan analisa aeromagnetic.
– Survey darat sepintas-lalu; pelintasan-pelintasan yang menyeluruh seluruh daerah, dengan metoda geologi atau metoda non-geologi. Prospeksi batuan dan/atau prospeksi sungai dsb (peta sekala 1 : 100.000 – 200.000). tahapan ini menghasilkan daerah-daerah prospek.
5. Prospeksi Umum, (sekala 1 : 50.000 – 1 : 25.000); surveu darat menindak-lanjuti daerah prospek secara bersistim dengan metoda geologi (prospeksi batuan atau/dan prospeksi sungai seperti stream sampling, pendulangan, float mapping, rock sampling, kadangkala metoda sumur-uji/paritan atau pemboran dangkal setempat) dan/atau bersamaan dengan metoda geokimia (stream sampling, soil sampling) dan/atau metoda geofisika umum, (seperti survey magnetic, survey gravitasi, survey seismik refraksi) yang dipilih sesuai dengan petunjuk geologi yang digunakan.
6. Pemilihan Sasaran merupakan akhir dari tahapan ini.
III. Tahapan Detail
7. Prospeksi Detail/Eksplorasi Pendahuluan, pemetaan sekala 1 : 5.000 – 1 : 1.000, detail diukur dengan alat metoda paritan dan sumur-uji, survey geofisika rinci dengan kisi, survey geokimia rinci (soil sampling) dengan Kisi (grid), beberapa pemboran pengambilan contoh.
8. Eksplorasi Detail, pemetaan 1 : 500, program pemboran yang terperinci dan sistematik/atau pembuatan terowongan eksplorasi. Penentuan cadangan pendahuluan. Pengambilan contoh sistematis.
IV. Prospek Evaluation
9. Penilaian Tambang dan Penentuan Cadangan, di sini faktor-faktor teknik penambangan dan teknik ekstraksi metalurgi serta penilaian ekonomis dilakukan.
Perlu ditekankan disini dalam mendesai strategi tahapan-tahapan ini tidak perlu diikuti secara dogmatis, tetapi disesuaikan dengan konsep eksplorasinya. Bisa saja dipilih suatu strategi dimana tahapan Reconnaissance dilewati dan langsung memilih tahapan Eksplorasi Detail, jika memang sudah ada target/prospek yang sesuai dengan konsep eksplorasi.
Dalam melakukan eksplorasi, perlu mengetahui cara terjadinya endapan bahan galian tersebut. Dengan mengetahui cara terjadinya, maka cara penyelidikan tertentu dapat segera dilakukan.
Jika kita belum mengetahui keadaan atau jenis endapan bahan galian yang dicari, dilakukan lebih dahulu penyelidikan umum seperti penyelidikan dari udara, setelah itu baru dilakukan penyelidikan di darat dengan cara pemetaan geologi, geokimia dan geofisika. Jika semua tahap diatas telah dilakukan dengan hasil-hasil penafsirannya, baru dilakukan pengeboran. Pengeboran pertama dilakukan untuk mengecek kebenaran dari hasil penafsiran geologi, geokimia ataupun geofisika, jika terbukti benar baru pengeboran terperinci atau disebut juga pengeboran eksplorasi dilakukan.
Urut-urutan penyelidikan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pemetaan Geologi Terperinci
Di daerah yang diperkirakan terdapatnya sesuatu macam endapan bahan galian perlu dilakukan penyelidikan/pemetaan terperinci dengan sekala 1 : 2000 sampai dengan 1 : 5000.
Yang dipelajari disini adalah macam batuan, strukturnya kecil (micro) serta umur batuan. Macam dan umur batuan dipelajari di laboratorium. Untuk macam batuan dipelajari di laboratorium mineralogi/petrologi, sedangkan umur batuan pada laboratorium penentuan umur (age dating). Sedangkan struktur batuannya/geologinya diukur di lapangan dan dibuatkan diagramnya, kemudian dari seluruh data-data tersebut dapat ditafsirkan yang ada hubungannya dengan cara terjadinya endapan bahan galian. Misalnya, apakah endapan bahan galian terbentuk secara hidrotermal, melalui/mengisi patahan/patahan terlebih dahulu atau belakangan setelah endapan bahan galian terbentuk, jika dissaminated (terhambur) apa atau batuan mana pembawa mineral dan mengisi rekahan atau tidak dan lain sebagainya. Dengan mengetahui hal-hal tersebut pencarian endapan bahan galian dapat lebih terarah lagi.
2. Pemetaan Geokimia Terperinci
Seperti juga pada pemetaan geologi terperinci, untuk pemetaan geokimia terperinci dilakukan pemetaan topografi dengan pembuatan jaring-jaring rintisan untuk pengambilan contoh tanah yang berjarak 50 sampai dengan 250 meter dengan sekala 1 : 2000 atau 1 : 500. Contoh tanah yang diambil, dibawa ke laboratorium untuk penentuan unsur-unsur kimia yang terkandung pada contoh tanah tersebut. Setelah hasil analisa diperoleh, harga-harga dituliskan pada peta sesuai dengan nomor contoh, kemudian dibuat garis yang menghubungkan daerah dengan kandungan bahan yang sama, kemudain dari peta ini dapat ditafsirkan endapan bahan galian mana yang cukup menarik.
3. Penyelidikan/Survei Geofisika Terperinci
Setalah dipelajari hasil dari kedua hal diatas, dimana terdapat hubungan antara penafsiran geologi dan geofisika (biasanya selalu ada hubungan) perlu diadakan pengecekan secara geologi ataupun geokimia, tetspi hal ini jarang terjadinya. Penyelidikan secara geofisika dilakukan untuk mengetahui tentang penyebaran bahan geofisika dilakukan untuk mengetahui tentang penyebaran endapan bahan galian secara mendatar, cara geosifika yang dilakukan itu adalah sebagai berikut :
a) Untuk Mencari Logam
Setelah cara geofisika dilakukan, maka tergantung pada endapan yang akan diselidiki baru dilakukan penyelidikan secara geofisika. Untuk mineral logam sulfida, biasanya dilakukan penyelidikan cara potensian diri, tahanan jenis dan polarisasi terimbas. Kadang-kadang juga dilakukan penyelidikan cara magnet untuk mengetahui penyebaran alterasi dan batuan lain yang mengintrusi. Demikian juga cara gaya berat untuk mengetahui struktur geologi. Sedangkan untuk mineral logam oksida dilakukan penyelidikan geofisika cara magnet dan cara gaya berat.
b) Untuk Survey Mineral Industri dan Batubara
Survey cara geofisika tidak banyak dipakai dalam mencari atau melokaslisasi endapan mineral industri atau batubara, sebab tidak begitu sulit seperti endapan mineral logam. Penyebaran endapan-endapan ini cukup luas. Pada masa-masa akhir ini, karena diperkirakan sebelum melakukan pengeboran eksplorasi cara geofisika lebih mudah, maka cara geofisika juga dilakukan. Yang banyak dilakukan adalah cara tahanan jenis untuk mengetahui tebal lapisan, seperti kaolin, pasir kuarsa dan batubara.
Selain tahanan jenis juga dipakai cara seismik dangkal untuk menentukan tebal lapisan. Pada survey batubara juga dipakai penyelidikan penampang geofisika (loging), seperti loging tahanan jennis, loging radioaktif, loging potensial dan loging caliper untuk menentukan bentuk penampang lubang bor, jadi setelah pengeboran dikerjakan.
c) Untuk Survey Minyak Bumi dan Gas Alam serta Panas Bumi.
Oleh karena penyelidikan minyak bumi dan gas alam berhubungan erat dengan bentuk struktur geologi, maka penyelidikan geofisika sangat diperlukan sekali.
Sedangkan pada penyelidikan panas bumi, yang juga banyak hubungannya dengan struktur dan jenis lapisan tempat uap panas bumi didapat, maka cara penyelidikan geofisika yang dipakai adalah cara gaya berat dan cara tahanan jenis. Sekarang ini sedang dikembangkan pula cara porarisasi terimbas.
d) Eksplorasi Endapan Mineral Industri dan Bahan Bangunan
Eksplorasi endapan bahan galian ini dibandingkan dengan endapan mineral logam, lebih sederhana. Hal ini disebabkan adanya penyebaran endapan ini yang luas dan formasinya tidak sulit. Dengan demikian penentuan cadangan dan mutunya tidak begitu sulit seperti mineral logam. Sebagai contoh endapan bauan beku atau intrusi batuan andesit atau batugamping, pasir, lempung dsb.
e) Eksplorasi Endapan Mineral Logam.
Eksplorasi endapan mineral logam tidak sesederhana seperti mineral industri, hal ini disebabkan terjadinya mineral logam tidak teratur. Sebagai contoh ada yang berbentuk orok (dike), urat atau tersebar (disseminated).
f) Cara-Cara Penentuan Cadangan Dan Mutu Endapan Bahan Galian.
Menentukan cadangan suatu endapan bahan galian, perlu ada pembuktian yang dapat dilihat. Oleh karena endapan bahan galian pada umumnya terletak dibawah permukaan, maka untuk pembukitan itu diperlukan :
Ö Pengeboran
Ö Pembuatan sumur uji dan parit (Trenches)
Ö Pembuatan terowongan eksplorasi
Sebelum dilakukan kegiatan tersebut diatas, perlu memahami dulu bentuk endapan itu dari hasil pemetaan geologi, penafsiran geologi, geokimia dan geofisika terperinci.
Dalam eksplorasi batubara dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Tahap Penyelidikan Umum
Penyelidikan umum diawali dengan studi pustaka atau disebut pula sebagai sedk study. Studi ini menyangkut mengenai keadaan geologi regional, tektonik dan yang berkaitan dengan paleogeographic setting suatu daerah penyelidikan.
Maksud penyelidikan umum adalah untuk memperoleh informasi dan menentukan batas luas daerah. Setelah itu selesai, dilakukan penelitian lapangan dengan tujuan pengecekan lapangan hasil studi pustaka. Dalam penelitian lapangan diusahakan pula mecari kemungkinan adanya singkapan batubara, mengambil conto batuan dan conto batubaranya.
2. Tahap Penyelidikan Pendahuluan
Pelaksanaan eksplorasi pendahuluan dilakukan dengan memetakan daerah penyelidikan, baik dengan pemetaan topografi maupun dengan foto udara dengan tujuan mendapatkan peta yang benar dan baik sebagai dasar penyelidikan selanjutnya.
Tahap berikutnya melakukan pemetaan geologi dengan menggunakan peta permukaan dan foto udara dimaksudkan untuk melakukan interpretasi keadaan singkapan, struktur dan kedudukan stratigrafi dari batubara. Untuk mengetahui kedudukan stratigrafi lapisan-lapisan batubara dilakukan pemboran dangkal ataupun pemboran dalam di beberapa tempat. Tujuannya untuk mendapatkan data tentang ketebalan dan kedudukan Formasi batubara, dengan melakukan terlebih dahulu dari titik-titik pemboran dapat diketahui arah dan bentuk lapisan batubara, disamping itu diperoleh pula data pendahuluan tentang kualitas batubara.
Pada akhir program ini, apabila sekitarnya daerah tersebut mempunyai nilai ekonomis yang potensial, maka akan diperoleh data sebagai berikut :
a. Hasil perhitungan cadangan sampai tingkat indikatif.
b. Perkiraan tentang kualitas.
c. Laporan tentang sumber cadangan secara lengkap untuk studi pemasaran dan finansial.
Disamping itu sudah dapat ditentukan pula :
1. Keadaan geologi endapan batubara dan perkiraan struktur bawah permukaan.
2. Alternatif cara penambangan baik secara tambang terbuka maupun tembang dalam.
3. Tahap Penyelidikan Detail
Pada tigkat ini kegiatan eksplorasi lebih terpusat pada kegiatan pemboran yang bertujuan untuk lebih mengetahui bentuk geometri endapan batubara, kualitas dari lapisan batubara dan lamungkinan adanya anomali geologi yang akan menimbulkan kesulitan dalam proses penambangan yang akan dilaksanakan, apabila diperlukan dapat pula dilakuka penyelidakan geofisika dengan tujuan untuk mengetahui secara rinci keadaan geologi bawah permukaan yang meliputi keadaan stratigrafi dan struktur yang tidak terekam dari kegiatan pemboran, pengumpulan dan pendokumentasian semua data yang telah diperoleh berikut peta-peta yang telah dibuat serta rencana kegiatan aktifitas penambangan yang akan datang pada akhirnya kegiatan program ini akan dihasilan hal-hal sebagai berikut :
1. Perhitungan cadangan sampai tingkat yang dapat diambil recoverable reserve, sedang ketepatan perkiraan perhitungan batubara yang dapat dijual sudah mendekati 20%.
2. Data lengkap mengenai kualitas, baik secara statik dan variasi yang terdapat secara regional, data yang menyangkut batuan ikutan.
3. Data tentang penggunaan batubara dan laporan tentang hasil test pembakaran baik dalam skala laboratorium maupun dalam skala komersial di sektor industri.
4. Data yang mengangkut tentang pencucian batubara (washability test).
Bilamana data yang telah dikumpulan tersebut dan pada kenyataanya sudah konprehensif maka berarti pengembangan sumber cadangan batubara tersebut telah memperoleh prioritas yang tinggi untuk dapat diajukan ke tingkat yang lebih lanjut.
Tingkat selanjutnya akan dilakukan pengumpulan data mengenail penambangan dan masalah yang menyangkut bidang-bidang yang bersifat engineering seperti masalah geoteknik, hidrologi dan perencanaan proses pencucian, hal yang menyangkut pengangkutan dan penimbunan batubara.
Semua data tersebut dikompilasi dan dijadikan bahan untuk membuat studi kelayakan pengembangan endapan batubara tersebut ke arah pembukaan tambang. Pekerjaan eksplorasi akan tetap dilakukan terus selama masa umur tembang tersebut berjalan. Pekerjaan eksplorasi ini dikenal sebagai commersial exploration programe, menyangkut pula pekerjaaan pemboran produksi (production drilling) yang bertujuan untuk lebih meningkatkan ketelitian cadangan yang dapat diambil (recoverable reserve) sampai tingkat 5%.