
Menggali Pesona Seni Tari NTT: Upaya BOPLBF Jadikan Budaya Manggarai Daya Tarik Utama Wisata Labuan Bajo
Labuan Bajo, yang selama ini dikenal sebagai gerbang megah menuju keajaiban Taman Nasional Komodo, kini semakin memperkuat identitasnya sebagai destinasi wisata budaya yang kaya. Melalui inisiatif strategis, Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) secara aktif mengangkat kekayaan seni tari khas Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya dari Kabupaten Manggarai Barat, untuk menjadi pilar atraksi utama bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Visi Strategis: Mengemas Budaya Sebagai Atraksi Wisata Unggulan
Direktur Utama BOPLBF, Shana Fatina, menekankan bahwa sanggar seni lokal memegang peranan krusial sebagai garda terdepan dalam pelestarian sekaligus sebagai daya tarik wisata yang otentik. Menurutnya, kekuatan budaya lokal terletak pada kemasannya yang unik dan narasi yang menarik.
“Sanggar itu punya kemasan narasi yang unik dan menarik. Daya pikatnya ada pada dinamika musik, gerak dan tari. Nah, ini yang kemudian menjadi salah satu kekuatan budaya lokal di masing-masing daerah,” jelas Shana dalam keterangannya di Labuan Bajo. “Nafasnya harus dijaga dan perlu terus dikembangkan dengan ide-ide yang selalu baru,” lanjutnya.
Visi ini menjadi landasan bagi BOPLBF untuk tidak hanya mempromosikan keindahan alam, tetapi juga merawat dan mengembangkan ekosistem seni budaya sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman wisata di Labuan Bajo.
Aksi Nyata: Pelatihan Pembuatan Seragam dan Properti Tari Khas Manggarai
Sebagai wujud nyata dari visi tersebut, BOPLBF menyelenggarakan “Pelatihan Pembuatan Seragam Tari dan Properti Sanggar Seni”. Kegiatan yang berlangsung pada 3-10 September 2020 ini dipusatkan di Sanggar Seni I Production Cowang Dereng, Kabupaten Manggarai Barat.
Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas keterampilan, kreativitas, dan kemandirian para pelaku seni kreatif lokal. Dalam pelatihan ini, para peserta dibekali kemampuan untuk memproduksi sendiri seragam dan properti tari yang ikonik, seperti untuk Tari Mbero dan Tari Balibelo.
“Ini salah satu cara menjaga dan merawat kebudayaan kita. Semua unsur budaya dari segi warna, motif, maupun simbol budaya ada disitu. Kita perkuat teman-teman pegiat seni tari, biar mereka makin semangat berkarya dan berinovasi melalui seni tari,” ujar Shana.
Memberdayakan Komunitas dan Sanggar Seni Lokal
Pelatihan ini melibatkan partisipasi aktif dari sembilan sanggar seni yang tersebar di Kabupaten Manggarai Barat, menunjukkan komitmen BOPLBF dalam pemberdayaan komunitas secara merata. Para peserta yang terlibat antara lain:
Sanggar I Production (Labuan Bajo)
Sanggar Molas Naga Komodo (Labuan Bajo)
Sanggar Wela Rana (Melo)
Sanggar Mutiara Rekas (SMP Rekas)
Sanggar Pokdarwis (Pulau Komodo)
Sanggar Wae Mose (SD Wae Mata Labuan Bajo)
Sanggar Wela Linu
Sanggar Legori (Labuan Bajo)
Sanggar Lami Rahit (SDN 2 Labuan Bajo)
Program ini menghadirkan narasumber ahli di bidangnya, yaitu Konradus Jeladu, Andi Tenrilebbi, dan Maria Rita, untuk memastikan transfer ilmu berjalan efektif.
Dari Pelatihan untuk Pelestarian: Hasil Karya untuk Sanggar
Pada hari pertama, BOPLBF menyediakan seluruh bahan mentah yang dibutuhkan, mulai dari kain dengan motif khas hingga material untuk properti. Selama sepekan, para peserta berkreasi untuk menghasilkan seragam dan properti tari yang sarat akan nilai budaya.
Sebagai bentuk apresiasi dan dukungan berkelanjutan, seluruh hasil karya dari pelatihan ini, termasuk seragam dan properti Mbero serta Balibelo yang telah jadi, disumbangkan kembali kepada masing-masing sanggar peserta. Langkah ini diharapkan dapat menjadi modal bagi sanggar-sanggar untuk terus berkarya, tampil, dan memukau para wisatawan yang datang ke Labuan Bajo, memperkaya destinasi ini dengan pesona budaya yang tak terlupakan.

