Siklon 93S picu banjir di Bali, 1 WNA tewas, 191 KK & 150 wisatawan terdampak
Berita dan Event

Siklon 93S picu banjir di Bali, 1 WNA tewas, 191 KK & 150 wisatawan terdampak

Dampak bibit Siklon 93S di Bali mulai terlihat.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat lima dari sembilan kabupaten/kota di Pulau Dewata terdampak bibit siklon tropis itu sejak Kamis (11/12) lalu.

Banjir pertama terjadi di Karangasem pada Sabtu (13/12), kemudian Minggu (14/12) terjadi di Kota Denpasar dan Badung, lalu Senin (15/12) menimpa Gianyar dan Jembrana.

Di Kabupaten Karangasem, bencana banjir akibat luapan sungai memberi dampak ke 50 Kepala Keluarga (KK) dan dua bangunan sekolah.

Di Kota Denpasar terdapat 20 titik banjir, sementara di Badung mencapai 14 titik.

“Jadi, cukup banyak walaupun tidak sebanyak pada September (2025) dan itu titiknya berbeda karena karakter hujannya berbeda,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya dilansir dari Antara.

Di Kabupaten Gianyar, banjir merendam lima titik jalan utama dengan tinggi melebihi satu meter dan membuat tembok rumah warga runtuh sehingga menutup akses jalan raya.

Banjir di Gianyar juga menyebabkan satu orang luka.

“Tidak ada yang mengungsi, semua ada di rumah, tetapi banyak rumah terdampak.

Di sana banyak tempat yang memang wilayah peta banjir, cuma sekarang eskalasinya, kalau dahulu biasa di bawah lutut sekarang naik, ada yang sepinggang,” kata I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.

Di Kabupaten Jembrana, bencana banjir terjadi di empat desa disertai pohon tumbang dan banjir di jalur utama Denpasar-Gilimanuk.

BPBD Bali mencatat ada satu korban meninggal dunia yang merupakan WNA perempuan asal Rusia berinisial KK, 30, sementara yang terdampak banjir sekitar 191 KK masyarakat dan 150 wisatawan.

“Ada satu WNA yang menjadi korban, kemudian 150 wisatawan lainnya, cuma mereka pindah penginapan, tidak mengungsi.

Ada juga memang waktu liburnya berakhir, tetapi ada juga yang mempercepat liburnya,” imbuhnya.

BPBD Bali juga mengingatkan masyarakat untuk waspada mengingat potensi hujan lebat yang memicu banjir masih terjadi meski Siklon 93S menjauh dari khatulistiwa.

“Potensi ini (banjir) masih terjadi untuk beberapa hari ke depan,” ucap I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya.

Menurutnya, karakter Siklon 93S berbeda dengan Gelombang Rosby yang menyebabkan banjir besar pada September lalu.

Namun, dampak siklon terhadap curah hujan dan angin patut diwaspadai.

Ia juga mengakui bencana banjir turut disebabkan oleh daya dukung lingkungan yang kurang, selain cuaca ekstrem.

“Daya dukung lingkungan belum siap, belum sesuai dengan kemampuan mengalirkan air dengan baik, tata ruangnya, sistem drainasenya, memang perlu rekayasa sistem drainase untuk mengantisipasi curah hujannya,” tuturnya. (lia/JPNN)

Author: nathavarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *