Sintung Park di Desa Sintung, Kabupaten Lombok Tengah, kini meroket menjadi primadona pariwisata baru berkat lanskap alamnya yang strategis dan sarat nilai sejarah. Destinasi yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Kota Praya (atau 18 kilometer dari Kota Mataram) ini memadukan konsep rekreasi keluarga dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Daya Tarik Utama Sintung Park
| Atraksi Wisata | Deskripsi |
| Menara Pandang | Menara setinggi 9 meter yang menjadi titik swafoto premium. Menawarkan panorama Gunung Rinjani di timur laut, laut di selatan, dan lanskap Kota Mataram di barat. |
| Peninggalan Sejarah | Area pameran alat perang masa lampau saat Sintung menjadi basis pertahanan kerajaan. Menyimpan relik seperti Bebadong (sabuk kekebalan tubuh khas Sasak). |
| Wisata Air & Alam | Terdapat kolam renang dengan sumber air bor sedalam 35 meter yang dikelilingi hamparan sawah terasering estetik. |
| Rencana Arung Jeram | Pengembangan rute rafting menantang sepanjang lima kilometer yang melintasi aliran berbatu dari Sungai Babak Lekong Siwak menuju Sungai Gebong. |
Aksesibilitas dan Misi Ekonomi Desa
Wisatawan dapat menikmati seluruh fasilitas alam di Sintung Park tanpa biaya tiket masuk; pengunjung hanya dibebankan retribusi parkir sebesar Rp2.000 per kendaraan. Kepala Desa Sintung menginisiasi proyek ini untuk memantik kemandirian ekonomi desa, dengan target perputaran uang mencapai Rp2 hingga Rp5 juta per hari saat beroperasi normal. Keuntungan harian ini dialokasikan langsung untuk pembangunan fasilitas umum, masjid, musala, hingga pengelolaan panti jompo desa.
Pusat Kuliner dan Budaya Alun-Alun Sintung
Sekitar satu kilometer dari area taman, Alun-Alun Sintung seluas 40 are bertransformasi menjadi ruang publik yang semarak setiap sore dan akhir pekan.
Sentra Kuliner Terbuka: Terdapat 14 titik lapak angkringan yang dikelola oleh ibu-ibu desa setempat. Menu yang ditawarkan berfokus pada cita rasa autentik seperti plecing kangkung, ayam/bebek betutu, serbuk (urap), dan rujak terasi.
Panggung Kesenian Tradisional: Secara bergiliran, 11 dusun menampilkan atraksi budaya warisan leluhur. Pertunjukan rutin meliputi Gendang Beliq (musik tabuh penyambut prajurit perang), Cupak Grantang, drama Rudat, hingga kesenian Hadrah.
