
Lebih dari Sekadar Volume: Ketidakcocokan Kualitas Batu Bara Picu Defisit 2GW, Kenaikan Harga DMO Masih Ditunda
Argus/CNBC/Bloomberg | 24 Juni 2026
- Krisis Kualitas: Menteri Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa 80% produksi batu bara Indonesia saat ini didominasi oleh batu bara berkalori rendah hingga menengah, dan hanya 20% yang memenuhi spesifikasi kalori menengah hingga tinggi (5.800 hingga 6.300 kcal/kg). Pemadaman bergilir sangat diperparah karena pembangkit terpaksa membakar batu bara kualitas rendah ini, yang menurunkan kapasitas output akibat ketidakcocokan spesifikasi teknis dan memicu defisit pasokan listrik hingga 2GW.
- Satgas Pencampuran Darurat: Untuk mengatasi ketidakcocokan spesifikasi kritis tersebut, Kementerian ESDM membentuk tim pengadaan lintas sektoral. Tim ini telah mempercepat kontrak pasokan dengan perusahaan tambang besar, termasuk Kaltim Prima Coal, ITMG, dan Bukit Asam, untuk mengamankan batu bara kalori menengah (GAR 5.200 kcal/kg). Batu bara spesifik ini akan digunakan murni untuk dicampur (blending) dengan stok kualitas rendah guna memperbaiki proses pembakaran dan memulihkan kapasitas boiler ke tingkat normal.
- Tinjauan Harga DMO: Meski mengakui bahwa tingginya rasio pengupasan (stripping ratio 8%–12%) telah melambungkan biaya produksi penambang secara signifikan, Menteri Bahlil menegaskan bahwa pemerintah belum memutuskan untuk menaikkan harga Domestic Market Obligation (DMO). Potensi kenaikan harga tersebut masih dalam tahap kajian, sehingga batas harga saat ini tetap ditahan pada level US$70/ton—tarif yang belum pernah berubah sejak tahun 2018.


